Perempuan Pemeluk Kaktus




Aku pernah melihat seorang perempuan, seorang perempuan dengan kemampuan yang luar biasa, seorang perempuan dengan keinginan yang kuat, seorang perempuan yang sedang mengejar mimpi. Seorang perempuan bernama Giana. Dia dibesarkan oleh keluarga yang sempurna, dimasa sekolahnya dia adalah anakterpandai di kelasnya. Dimasa remajanya Giana tumbuh sebagai gadis yang tidak hanya pandai dalam pelajaran sekolahnya tapi seorang gadis periang yang pandai bergaul. Lulus SMA Giana masuk perguruan tinggi favorit dan jurusan yang paling diimpikannya. Siapapun pasti mau bertukar nasib dengan Giana.

Lulus kuliah Giana bekerja di sebuah persahaan besar bertaraf internasional dengan gaji dolar. Semua mengira bahwa mimpi Giana telah tercapai. Tapi tidak menurut Giana, mimipinya satupun belum tercapai. Mimpi seorang perempuan dengan segala kepandaiannya dan kesempurnaan yang ia miliki. Setiap perempuan selalu berpikir apa yang dicari oleh giana, seorang poerempuan cantik dari keluarga yang terpandang, mempunyai pekerjaan yang baik. Semua berpikir bahwa Giana adalah perempuan yang sempurna.

Ketika aku bertemu Giana, Giana sedang menjalankan sebuah misi untuk mencapai mimpi-mimpinya. Aku bertemu Giana yang sedang mengejar mimpinya, mimpi mencari bahagia dan dikenang sepanjang masa. “Setiap manusia pasti ingin bahagia mbak” kataku waktu itu pada Giana.“semua orang pasti ingin bahagia, tapi apakah adik pernah berpikir untuk dikenang sepanjang masa?”. Kata-kata itu membuat aku berpikir tentang hidupku, untuk siapa hidupku sebenarnya?? Dan apakah aku akan menjadi manusia yang akan dikenang nantinya.

Saat aku bertemu dengan Giana, Giana sedang mengejar mimpi seorang perempuan. Mimpi seorang perempuan yang ingin dikenang setelah ia meninggal. Keinginannya menjadimanusia yang ingin dikenang membuat ia lupa bahwa dia adalah seorang wanita. Seorangwanita yang hidup untuk anak-anak dan keluarganyaDia tak ingin berkeluarga karena dia menganggap perempuan akan menjadi nomor dua ketika dia berada dalam susunan kekeluargaan.

Aku bertemu dengan Giana saat dia dalam puncak kariernyamempunyai perusahaan sendiri yang telah berkembang pesat. Perusahaan yang bergerak pada bidang yang sangat diingikan oleh para  perempuan. Aku yakin setiap perempuan pasti iri akan nasib Giana. Tapiapakah mereka tahu bahwa Giana yang mereka anggap sempurna adalah sesosok manusia yang kurang bahagia. Ketika aku bertemu lagi dengan Giana aku bertanya” sudah ketemu dengan mimpinya, mbak?” Giana hanya menjawab ”sekarang aku merasa akan dikenang  sebagai perempuan yang hebat tapi aku merasa aku tidak pernah bahagia”

Aku bertemu lagi dengan Giana ketika itu Giana berusia 40 tahun aku bertanya ”Gimana mbak anaknya sudah berapa?” kataku lugu. Aku melihat raut mukanya yang kusut, dari raut wajahnya aku tahu bahwa selama ini dia tetap menjunjung tinggi prinsipnya yang tak mau menjadi nomor dua. Karena prinsip kuatnya itulah Giana tak menyadari bahwa bahaya telah mengintai bagian yang paling penting bagi perempuan. Setelah bertemu dengan Giana waktu itu aku kembali banyak berdiskusi dengan Giana. Aku baru tahu ketika dia bercerita bahwa rahim yang seharusnya dihuni oleh bayi yang lucu itu menjadi tempat bersarangnya tumor ganas,  karena tak pernah ada bayi di dalamnya, kini rahim itu  dihuni oleh tumor ganas itu diagnose dokter. Tumor yang bersarang di rahimnya membuat tubuhnya menjadi kurus danwajah cantiknya menjadi lesu menahan rasa sakit.

Aku selalu ingat apa yang diucapkan Giana saat itu ”Nay, perempuan itu sekeras apapun kamu bertahan, sekeras apapun kamu mencoba berdiri sendiri, dan sekuat apapun kamu, kamu tetaplah perempuan yang butuh orang lain untuk berbagi, yang butuh punggung untuk bersandar ketika lelah. Aku baru menyadarinya ketika waktuiku hampir habis sekarang, aku menyadari ketika kewanitaanku telah tak berguna lagi, aku selalu merasa bahwa perempuan hebat adalah perempuan mandiri yang tidak bergantung pada siapapun. Tapi sekarang aku tahu semua itu adalah sebuah kesalahan dalam alam pikirku. Perempuan hebat adalah perempuan yang menjalani kodratnya sebagai perempuan.” Aku hanya mendengarkan tanpa memberikan komentar.


Kemudian Giana melanjutkan “Nay, kamu tahu apa yang menjadikan seorang perempuan menjadi perempuan seutuhnya? Perempuan akan menjadi perempuan jika kewanitaannya dapat dibuktikan. Dan sekarang aku bukanlah perempuan, aku hanya jasad tanpa ada yang harus dibanggakan” dan saat itu aku menyadari bahwa perempuan adalah wanitawanita yang tahu kapan  menjadi perempuan dan harus kembali menjadi wanita, karena sekeras apapun perempuan menghindar ia akan tetap kalah karena dia adalah wanita.

Dan sekarang aku melihat banyak Giana-Giana bermunculan. Aku menyebutnyaperempuan pemeluk kaktusperempuan yang sedang mengejar mimpinya dan lupa bahwa dia adalah wanita. Aku ingat kata Giana saat akan meninggal
“Nay, jika ada yang ingin menulis kisahku biarkan yang tertulis adalah setiap kesalahan yang telah kulakukan, karena aku akan selalu menjadi  tanda pengingat bagi  para perempuan yang lupa jika dia adalah wanita, aku ingin dikenang sebagai orang yang tahu akan kesalahan yang diperbuat, aku ingin dikenang sebagai perempuan pemeluk kaktus yang sadar bahwa akan sangat sakit jika aku terus memeluknya”. Dan sekarang aku menulisnya, aku menulisnya agar semua yang membaca tulisan ini tahu bahwa perempuan tetaplah akan menjadi wanita.(nay)

Komentar

Postingan Populer