Analogi Orang Buta dan Tongkat


Percakapan dekat kamar mandi. Yap., inilah momen yang mengingatkan akan masa-masa masih di madrasah dulu. Kami kebetulan satu kos saat ini, dulu sekelas selama 2 tahun. Kalau bingung kenapa cuma 2 tahun, simple. Acak. Kelas kami selalu diacak tiap semesternya. Beruntungnya selama 2 tahun terakhirnya bisa bertahan di satu kelas.

Banyak orang yang lebih memilih ke SMP daripada madrasah tsanawiyah. Alasannya pun berbeda-beda. Jadi ingat alasan bunda temen se-kos-an saya itu untuk sekolah anaknya, sama halnya yang dikatakan bundanya Alif Fikri di buku “Negeri 5 Menara” yang intinya banyak yang menganggap madrasah adalah buangan dari anak-anak yang tidak bisa masuk SMP. Tidak seperti beliau yang alasannya kuat, dulu saya memilih madrasah hanya karena kakak saya juga disana. Itu saja. Dan orang tua saya mengijinkan, dengan sedikit berat hati.

Yap, yap, yap. Karena lokasi perbincangan kami saat itu di dekat kamar mandi jadi yang diingat adlah ‘Aqidah Akhlaq’. Pelajaran yang dibawakan guru kami yang menyenangkan, Pak Kholiq. Soal manusia.

Manusia itu ibaratnya orang buta yang berjalan membawa tongkat. Ia bisa tahu arah yang benar dengan penunjuk jalan di tangannya, yaitu tongkat. Ia tidak akan terbentur, terantuk, ataupun menabrak orang di depannya karena tongkatnya. Tongkatnya memberi tahu segala yang hidup di depannya untuk memberi jalan. Tongkat membantunya mengerti bahwa ada benda mati di depannya dari pantulan suara yang ia dapat. Pantulan suara pukulan tongkat ke badan jalan. Tongkatnya adalah penunjuknya.
Andaikan tongkatnya tak ada. Ia akan terjatuh, menabrak, tersesat dan lain sebagainya. Misalkan didepanya ada orang yang sedang jongkok..  Nah., pasti si orang buta akan dipukul oleh orang yang diterjangnya. Begitu pun manusia. Ketika petunjuk sudah tak lagi terpegang maka akan terjurumuslah ia. Tersesat. Dan menyebabkan kedzaliman.
Pelajaran berharga bukan. Disampaikan dengan sederhana dan mudah dipahami untuk anak-anak seusia kami saat itu.

Haa.. saya selalu ingin kembali ke madrasah. Teman-teman masa itu begitu kompaknya mengisi 10 menit sebelum awal pelajaran dengan tilawah. Yap, kami tilawah bersama-sama. Selama 3 tahun disana. Dan sampai sekarang, belum saya temui lagi kondisi serupa.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer