It Just "almost" Give Up
Langit..
Biru. Bersih. Bersinar. Sapuan awan tipis. Sorot sinar mentari. Hangat.
Jarang sekali bukan? Di musim penghujan begini, apalagi di tempat selain Surabaya. Hangat. Sehangat air mata yang hampir menetes. Ahh, saya tak pernah menangis di depan orang yang bersangkutan. Tak pernah, kecuali dulu saat kecil.
Benar. Sekarang diri ini bukan lagi seorang anak kecil. Bukan lagi seorang yang minta disuapi. Bukan lagi seorang yang masih merengek. Harusnya, seharusnya begitu jika harus saya perjelas. Namun.. entah bagaimana pada kenyataannya diri ini masih saja merengek, hanya saja dengan cara yang berbeda dengan saat-saat lalu.
Pikiran melayang sejalan dengan laju bus yang saya tumpangi. Langit, awan, mentari. Seketika lewatlah pohon, ranting, dan burung. Bukan menjadikan pemandangan yang ada jadi kacau tapi malah semakin indah. Membawa diri ini menghitung mimpi. Menghitung asa. Asa yang seakan-akan ingin lenyap. Mimpi-mimpi itu.. muluk kah? Hmm, benar. Ini semua muluk. Bukan hal kecil untuk seorang yang selalu merasa dirinya kecil. Muluk kah? muluk kah? muluk kaah?
Ah. selesai. Kenapa pikiran saya berkecamuk hanya untuk bertanya muluk dan tidak. Pengaruhnya? entah ada entah tidak. Ah. Apakah sebenarnya saya masih peduli dengan rancangan mimpi-mimpi ini. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Kolam hijau. Pikiran ini kembali meloncat ke kolam di kampus tempat yang tak pernah terbayangkan dulu ketika SMA.Benar. Asa yang hampir runtuh ini tak seharusnya.. tak seharusnya dibiarkan menguap, jatuh, atau pergi begitu saja. Kembali saya pikirkan. Impian ini lugu, lurus, tulus, dan ingin tertembus. Terwujud. jangan ditanya bagaimana, tak satupun cara ada di bayangan saat ini. Tak satupun. Apa yang harus dimulai? Saat semuanya mulai runtuh sebelum usai dibangun. Apa yang harus direncanakan, ketika segala rencana itu tak bertemu dengan harapan. Aah, dalam hati berteriak "don't give up!" Tapi apa??
Kolam hijau, kampus tak terbayangkan, guru BK, teman sekelas, dan... iyap. Keteguhan. Entah darimana, saat itu saya hanya yakin. Just it. Dan semuanya mulai berjalan. Waaah .. semakin bertambah usia mungkin saja optimisme makin berkurang, hehehe. Saya dulu yakin akan mimpi yang bisa diusahakan, kenapa sekarang harus menyerah? Yap, It jus "almost" give up.
Tapi saya berhasil. Meskipun di dalam kacau balau ndak karuan, kemarin masih bisa ketawa-ketawa di Lab sendiri dan Lab orang. Alibi! Sukses :D Meskipun sesaat tadi, matikan lampu kamar, pasang kacamata, pasang headset, hadap laptop. membelakangi temen sekamar. Lalu.. nangis sepuasnya. Saya masih anak kecil :D Janji itu akan selalu saya coba penuhi. "Jangan perlihatkan ekspresi apapun kecuali datar, senyum dan ketawa." [Ssst, meskipun kata beberpa orang ketika datar, saya jadi menakutkan Ehehhe]Saatnya bangkit lho.. Ayo-ayo.. Sidang pabrik semester ini, Bismillah :)



Komentar
Posting Komentar