Badai itu bernama Aramsa!

Tak semudah yang diangankan, tapi ia tetap gigih berjuang.
Bukan cuma untuknya, tapi juga keluarganya.
Tak pernah berkata lelah, kuat bukan??!
Hanya saja... hanya saja kelalaian terlalu tega membujuknya untuk lupa dengan sekitar, atau...
kesenangan sementara sang jiwa yang merayunya untuk tak lagi mengingat hal-hal yang ada di pundaknya.
Pundak kecil yang rapuh, yang sering kali ia menerima tetesan air mata yang meluncur jatuh saat peluh tak lagi toleran.

Smangatnya luar biasa, meski waktu sering pula ia biarkan sia-sia.
Hanya karena ia cuma bisa bilang "iya". Tak mampu menolak.
Hati yang lembut, namun sayangnya.... jiwanya tak kukuh. Tekadnya tak berbentuk, masih hanya bayang-bayang.

Kian lama kian rapuh pula lah jasadnya. Terterpa badai tak semestinya, bernama aramsa.
Lama.. dan berat. Ia tak mampu lagi mendengar. Kecuali bisikan-bisikan badai. Badai yang membuatnya semakin kalah, kalah oleh jiwanya sendiri. Jiwa yang kurang bisa menahan diri.

Kini... hewan di sekelilinngnya telah berangsur pergi. Jengah & lelah, teriakannya tak mampu menggapainya.
Rumputpun enggan bergoyang, karena ia tak lagi memperhatikannya.
Pehatiannya cuma tertuju pada satu, badai.

Badai yang mengelihkan arah hidupnya.  
Badai yang menelisip ke jiwa, dengan senyap, penuh kesunyian.. namun merusak.

Badai itu.. bernama aramsa.

Komentar

Postingan Populer